Oleh : Tristanti | January 24, 2013 | 1 Comment
Dingin. Basah. Aku memeluknya erat dari belakang. Menempelkan kepalaku di punggungnya. Sekadar untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Mempererat pelukanku, agar tubuhku tak ikut basah
Oleh : adenia pengguna | January 24, 2013 | No Comments
“Mama…. mama di mana?” “Mama kenapa sih mama gak seperti mamanya dinda?” rina baru saja pulang sekolah, tanpa memberi salam, tanpa membuka sepatu langsung membuka pintu, masuk kedalam rumah dan bertanya pada ibunya
Oleh : Nada_Salsabila | January 24, 2013 | No Comments
My Mom, sudah banyak yang mengatakan bahwa ibuku pahlawanku. Tapi, bagiku, ibu bukan sekedar pahlawan bagiku dan keluargaku. Ia segala-galanya bagi kami. Tanpanya, kami takkan pernah bisa menjadi seperti sekarang ini. Aku takkan pernah bisa membayangkan dan tak pernah ingin tuk membayangkan bagaiman jika ibu meninggalkanku tuk selama-lamanya
Oleh : Eka_Aristiyani | January 23, 2013 | No Comments
Neina sedang mendekap sebuah buku lalu berlari mencari Bundanya. “Emh, Bunda dimana ya?” kata Neina dalam hati. Buku yang sedang dibawa Neina adalah buku pemberian nenek ketika Neina baru mulai masuk sekolah dasar, tiga tahun yang lalu. Waktu itu Neina hanya menyimpan buku itu sebagai kenang-kenangan. Ia tak berniat menjadikannya sebagai buku catatan sekolah. Buku pemberian nenek itu bersampul coklat
Oleh : dilladp pengguna | January 19, 2013 | No Comments
“Mama jahat! Mama nyebelin!” bentakku sambil berlari ke luar rumah. Nggak tahu kenapa, rasanya aku kesal sekali pada Mama. Oh, aku tahu. Karena Mama nggak mengizinkan aku untuk ikut piknik bersama teman-temanku ke Taman Safari hari Sabtu nanti. Padahal aku sudah bilang, aku pergi ke sana diantar oleh ayahnya Sandra, temanku, dan perginya naik mobil. Tapi tetap saja, Mama nggak
Oleh : astri_hapsari | January 17, 2013 | No Comments
Ibu… Hari ini, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu? Sesuatu yang aku pendam lebih dari dua puluh tahun. Ya, lama sekali aku menyimpannya. Aku tak pernah sanggup mengatakannya. Karena aku sama sepertimu. Tak pandai mengungkapkan perasaan
Oleh : ipah pengguna | January 17, 2013 | No Comments
Ma, Ini Fata nulis surat buat Mama. Iya, Ma, Fata yang dulu pas Mama-Papa kasih nama Fata Hanifa, 20 tahun lalu, belum bisa ngapa-ngapain kecuali sembunyi di balik ketiak Mama dan ngemis ASI di sana. Sekarang bayi keempat dari kelima bayi Mama udah gede dan bisa urunan rame-rame buat beli pulsa modem, keren kan? Trus dipake buat nulis surat deh
Oleh : Maulida | January 14, 2013 | No Comments
Mama’ begitu biasa aku memanggil ibuku tercinta. Mama’ itu orangnya gampang dan cepet banget akrab sama orang. Aku inget banget pas pergi bareng mama naik angkot, mama selalu berhasil dengan mudahnya ngajak orang lain yang ada di bemo untuk ngobrol, entah ngobrolin tentang pak supir angkot yang kadang-kadang nyupirnya gak sesuai aturan atau ngobrolin hal-hal lain yang bikin suasana di
Oleh : furiyani pencerita penulis pengguna | January 14, 2013 | No Comments
Halo Takita! Apa kabarmu disana? Apakah kamu masih sedih? Kenalkan dulu, nama kakak adalah Furiyani Nur Amalia. Tapi Takita bisa panggil kakak dengan panggilan Kak Furi saja ya. Eh, hari ini Kak Furi mau cerita sama Takita. Tapi Takita jangan sedih lagi ya. Cerita ini adalah cerita yang sering ibu Kak Furi ceritakan ketika kakak masih kecil
Oleh : kak_yeanny pengguna | January 14, 2013 | 1 Comment
Ibuku yang tercinta aku sayang ibu, Walapun ibu suka marah marah tapi cinta anak ke pada ibu luas tak terkira sepanjang masa
Oleh : upiex pencerita penulis pengguna | January 14, 2013 | No Comments
Bercerita tentang ibu aku jadi teringat waktu dulu aku masih remaja yang orang bilang anak ABG gitu lah. Pergaulan yang membuatku sepertinya harus bersikap agak berani terhadap orang tua
Oleh : Peri_Hutan | January 14, 2013 | No Comments
Hai ibu, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Coba aku hitung mundur, sekarang aku sudah lulus kuliah dan sudah bias mencari uang sendiri. Ketika kau pergi aku masih duduk di kelas tiga SMA dan sekarang aku berusia 24 tahun! hmmm, hampir enam tahunan lah, rasa kangen sudah tidak dapat ditampung lagi, sudah meleber kemana-mana
Oleh : Cantia_ pencerita penulis pengguna | January 14, 2013 | 1 Comment
Pagi ini tak secerah biasanya. Nabila bangun dan melihat sekelilingnya. Jam menunjukan pukul 06.30. Kamar itu sunyi dan bisu bagaikan malam.Tirai jendela kamar Nabila masih tertutup rapi dan pintu kamarnya masih tertutup. Tapi, biasanya tak seperti ini. Setiap pagi, Ibunya selalu membangunkannya, lalu membuka tirai ungu di kamarnya yang menutupi sinar cemerlang matahari pagi.
Oleh : dita_akw pencerita penulis pengguna | January 14, 2013 | No Comments
“ibu, jangan tinggalin aku yaa ? aku takut sendiri disini kalau ibu pergi” “Iya dek, ibu akan selalu ada disini buat nemenin kamu” “Janji ?” Itu pembicaraanku dengan ibu, beberapa bulan sebelum aku tau ibu divonis dokter menderita kanker. Suatu penyakit yang menurutku sangat mengerikan dan akan membuat aku terpisah dari ibu.
Oleh : Carolina | January 13, 2013 | 4 Comments
Ibu. Sosok apakah itu? Aku tak pernah mengenalnya. Yang aku tahu, ibuku itu ya Ibu Hani. Ibu Hani yang memeliharaku sedari aku bayi yang ditinggalkan begitu saja di depan pintu rumah ini. Dan aku memang memanggilnya dengan sebutan Ibu. Mereka bilang, rumah ini tempatnya banyak perempuan membuang bayinya. Aku tak tahu, kenapa mereka harus membuang bayi mereka. Membuang itu kan
Oleh : timpakul penulis pengguna | January 13, 2013 | No Comments
Dua tahun lalu. Mama memilih 29 Januari sebagai hari pertamamu untuk menikmati kesumpekan Jakarta. Udara siang itu sangat gerah. Rumah sakit ini masih sibuk membangun ruang baru. Kendaraan berebut membunyikan klaksonnya, karena tak pernah sabar untuk menuju tempat mengisi perut
Oleh : bellazoditama penulis | January 6, 2013 | No Comments
“Satu… Satu… Aku sayang Ibu…” “Dua… Dua… Juga sayang Ayah…” “Tiga… tiga….” Tiba-tiba Nabila berhenti benyanyi, padahal lagu yang dia nyanyikan belum selesai. Lalu, Mama bertanya kepadanya, “Kok kamu berhenti bernyanyi?” “Aku kan nggak punya Adik, dan Kakak, Ma. Padahal dilagu itu kan liriknya, ‘Sayang Adik… Kakak…’” jawab Nabila. Kemudian dia duduk di samping Mama dan memegang tangan Mama. Mama
Oleh : Damai penulis pengguna | January 6, 2013 | 1 Comment
Suatu hari ada ancaman di dunia peri. Mira sang pengendali air langsung mengeluarkan bola-bola air dari tangannya untuk menyerang peri-peri jahat. Temannya Mira yang bernama Michel sedang mengendalikan pasir-pasir yang ada di sekitarnya. Pertempuran berlangsung seru. Tiba-tiba, Bruk! Peri-peri jahat terjatuh secara tiba-tiba. Ternyata yang membuat peri-peri jahat jatuh adalah para ibu peri. Sekarang Mira baru ingat kalau hari ini
Oleh : hurufkecil penulis | January 6, 2013 | 1 Comment
“MAMA, saya ingin punya celana panjang dan Majalah Bobo. Kalau tidak bisa beli yang baru, yang bekas juga saya terima.” KAU ingat surat berisi permintaan bodoh yang aku letakkan di bantalmu itu? Aku berpikir selama berhari-hari sebelum berani menuliskannya. Kau membalasnya dengan permohonan maaf, cuma mampu membeli Majalah Bobo. Uangmu tidak cukup membeli celana panjang. Kau tahu, waktu itu, aku
Oleh : Tantri | January 6, 2013 | No Comments
Mama adalah pahlawanku. Beliau adalah Mama terhebat bagi diriku. Beliau membesarkanku penuh dengan kasih sayang dan kesabaran. Tak sekali pun beliau mengeluh selama merawatku yang sakit ini. Penyakitku ini membuatku kehilangan nafsu makan. Semua makanan yang masuk ke dalam mulutku terasa hambar. Selain itu, makanan itu acapkali keluar lagi dari mulutku. Sangat sulit menemukan masakan yang sesuai untukku