<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Indonesia Bercerita</title>
	<atom:link href="http://indonesiabercerita.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiabercerita.org</link>
	<description>&#34;Mendidik melalui Cerita&#34;. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Apr 2013 16:58:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<copyright>Copyright © Indonesia Bercerita 2011 </copyright>
	<managingEditor>idcerita@gmail.com (Indonesia Bercerita)</managingEditor>
	<webMaster>idcerita@gmail.com (Indonesia Bercerita)</webMaster>
	<ttl>1440</ttl>
	<image>
		<url>http://indonesiabercerita.org/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress.jpg</url>
		<title>Indonesia Bercerita</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org</link>
		<width>144</width>
		<height>144</height>
	</image>
	<itunes:new-feed-url>http://indonesiabercerita.org/feed/podcast/</itunes:new-feed-url>
	<itunes:subtitle></itunes:subtitle>
	<itunes:summary>&#34;Mendidik melalui Cerita&#34;. Membebaskan imajinasi anak. Membangun karakter bangsa.</itunes:summary>
	<itunes:keywords></itunes:keywords>
	<itunes:category text="Society &#38; Culture" />
	<itunes:author>Indonesia Bercerita</itunes:author>
	<itunes:owner>
		<itunes:name>Indonesia Bercerita</itunes:name>
		<itunes:email>idcerita@gmail.com</itunes:email>
	</itunes:owner>
	<itunes:block>no</itunes:block>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
	<itunes:image href="http://indonesiabercerita.org/wp-content/plugins/podpress/images/powered_by_podpress_large.jpg" />
		<item>
		<title>Jack dan pohon Kacang</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/podcasts/jack-dan-pohon-kacang/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/podcasts/jack-dan-pohon-kacang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Mar 2013 23:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maiidizzy</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?post_type=podcasts&#038;p=3181</guid>
		<description><![CDATA[Dongeng tentang jack dan pohon kacang yang dikemas dengan musik yang atraktif sehingga menghidupkan suasana cerita dan juga disisipkan pesan moral untuk para pendengarnya]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dongeng tentang jack dan pohon kacang yang dikemas dengan musik yang atraktif sehingga menghidupkan suasana cerita dan juga disisipkan pesan moral untuk para pendengarnya <img src='http://indonesiabercerita.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/podcasts/jack-dan-pohon-kacang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
			<enclosure url="http://indonesiabercerita.org/wp-content/uploads/2013/03/audiobook-jack-dan-pohon-kacang-fix.mp3" length="1" type="audio/mpeg" />
		<itunes:duration>0:00:01</itunes:duration>
		<itunes:subtitle>Dongeng tentang jack dan pohon kacang yang dikemas dengan musik yang atraktif sehingga menghidupkan suasana cerita dan juga disisipkan pesan moral untuk para pendengarnya  </itunes:subtitle>
		<itunes:summary>Dongeng tentang jack dan pohon kacang yang dikemas dengan musik yang atraktif sehingga menghidupkan suasana cerita dan juga disisipkan pesan moral untuk para pendengarnya  </itunes:summary>
		<itunes:author>idcerita@gmail.com</itunes:author>
		<itunes:explicit>no</itunes:explicit>
		<itunes:block>no</itunes:block>
	</item>
		<item>
		<title>Pelukan untuk Mama</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pelukan-untuk-mama/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pelukan-untuk-mama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2013 00:11:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristanti</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3161</guid>
		<description><![CDATA[Dingin. Basah. Aku memeluknya erat dari belakang. Menempelkan kepalaku di punggungnya. Sekadar untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Mempererat pelukanku, agar tubuhku tak ikut basah. Hujan pagi itu, menghambat perjalanan kami. Dia berjibaku membelah jalan raya. Membelah hujan. Memastikan bahwa aku sampai dengan selamat ke sekolah. Aku meringkuk di dalam jas hujan, di belakangnya. Jas hujan itu tidak bisa melindungi kami ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">Dingin. Basah. Aku memeluknya erat dari belakang. Menempelkan kepalaku di punggungnya. Sekadar untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Mempererat pelukanku, agar tubuhku tak ikut basah.<span id="more-3161"></span></p>
<p>Hujan pagi itu, menghambat perjalanan kami. Dia berjibaku membelah jalan raya. Membelah hujan. Memastikan bahwa aku sampai dengan selamat ke sekolah. Aku meringkuk di dalam jas hujan, di belakangnya.</p>
<p>Jas hujan itu tidak bisa melindungi kami dengan sempurna dari terpaan hujan. Kulihat sekilas, kaki Mama basah. Begitu pula yang terjadi pada sepatuku. Basah. Aku mendesah. Pasti nanti masih ribet mengeringkan sepatuku yang basah ini agar lebih nyaman saat mengikuti pelajaran di kelas.</p>
<p>Terbayang teman-temanku yang selalu diantar jemput dengan mobil-mobil mewahnya. Mereka sampai di sekolah dalam keadaan baik-baik saja. Tidak sepertiku yang kuyup dan kacau balau.</p>
<p>“Mama, gimana kalau hari ini tidak usah berangkat ke sekolah?” keluhku tadi pagi. Ia mengerutkan keningnya.</p>
<p>“Kenapa begitu?” tanyanya.</p>
<p>“Di luar hujan deras,” aku menunjuk ke arah jendela, tampak cuaca yang tidak begitu bersahabat. Langit menumpahkan tangisnya tanpa henti.</p>
<p>“Hemm&#8230; ya sudah, kalau nggak mau sekolah. Mama sih nggak masalah, kalau kamu mau terima risikonya, nggak bisa belajar, nggak bisa ketemu teman-teman, ketinggalan hal-hal seru yang mungkin saja terjadi di sekolah hari ini. Dan&#8230; ah iya, bukannya hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia. Waduh, bisa jadi sekarang ada tugas mengarang. Dan dapat dipastikan bahwa predikatmu sebagai jago mengarang di kelas, bahkan di sekolah, akan tergeser oleh teman-temanmu, karena kamu nggak ikut mengarang hari ini. Kan nggak berangkat sekolah. Gimana tuh?” terangnya panjang lebar.</p>
<p>Aah&#8230; Mama, selalu saja bisa buat aku berubah pikiran.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Dia masih membelah jalan raya. Membelah hujan. Sesekali berhenti di lampu merah. Menikung. Melajukan motornya, tak peduli hujan yang terus mendera.</p>
<p>Sesekali jas hujan itu tersibak. Aku terpekik kecil saat air hujan menciprat sedikit pada rok seragam sekolahku. Kupererat pelukanku padanya.</p>
<p>Mama menghentikan motornya di halaman parkir sekolahku. Dengan payung, ia mengantarku sampai ke beranda di depan kelas.</p>
<p>“Mama, coba kita punya mobil. Pasti enak, nggak kebasahan kalau hujan begini,” rengekku begitu sampai di beranda depan kelas. Mama hanya tersenyum. Ia membantuku merapikan rambut dan bajuku yang sedikit berantakan akibat perjalanan kami tadi.</p>
<p>“Iya, memang enak. Tapi nanti tak ada lagi yang memeluk Mama seperti tadi sepanjang perjalanan,” jawabnya. Masih dengan senyum yang setia menghias wajah manisnya.</p>
<p>“Memangnya Mama suka?” tanyaku.</p>
<p>“Suka sekali,” jawab Mama sambil mengusap kepalaku lembut.</p>
<p>“Sudah sana, masuk kelas. Nanti terlambat.” Aku mengangguk. Mama masih mengawasi sampai aku benar-benar masuk ke dalam kelas. Aku meliriknya saat Mama mengambil payung, dan bersiap pergi.</p>
<p>“Mama!!” panggilku dari ambang pintu kelas. Mama membalikkan badannya ke arahku.</p>
<p>“Kalau gitu nggak usah beli mobil saja!” seruku. Aku yakin dia mendengarnya, meskipun suara hujan sedikit menghalangi percakapan jarak jauh kami. Karena kulihat dia tersenyum, mengacungkan jempolnya, kemudian memberi isyarat agar aku segera kembali ke kelas. Aku sedikit terbahak, lalu bergegas masuk kelas.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Tahun berlalu. Dan aku masih suka memeluknya dari belakang, saat Mama terduduk menatap senja beranda rumah. Kadang dia terkaget dengan tindakanku yang tiba-tiba.</p>
<p>“Mama masih suka bila kupelu seperti ini?” tanyaku.</p>
<p>“Selalu suka,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Saat dia mengusap kepalaku di beranda sekolah waktu itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pelukan-untuk-mama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini mamaku, bagaimana mamamu?</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/ini-mamaku-bagaimana-mamamu/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/ini-mamaku-bagaimana-mamamu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2013 00:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adenia</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3150</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mama&#8230;. mama di mana?&#8221; &#8220;Mama kenapa sih mama gak seperti mamanya dinda?&#8221; rina baru saja pulang sekolah, tanpa memberi salam, tanpa membuka sepatu langsung membuka pintu, masuk kedalam rumah dan bertanya pada ibunya. &#8220;Mama di dapur nak.&#8221; &#8220;Memang mamanya dinda seperti apa?&#8221; mama menjawab pertanyaan rina sambil terus mengaduk adonan kue. Bergegas rina menuju dapur, &#8220;Mamanya dinda selalu pakai baju ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Mama&#8230;. mama di mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mama kenapa sih mama gak seperti mamanya dinda?&#8221; rina baru saja pulang sekolah, tanpa memberi salam, tanpa membuka sepatu langsung membuka pintu, masuk kedalam rumah dan bertanya pada ibunya.<span id="more-3150"></span></p>
<p>&#8220;Mama di dapur nak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang mamanya dinda seperti apa?&#8221; mama menjawab pertanyaan rina sambil terus mengaduk adonan kue.</p>
<p>Bergegas rina menuju dapur, &#8220;Mamanya dinda selalu pakai baju bagus, cantik, rambutnya selalu di salon, pakai sepatu tinggi&#8221;</p>
<p>&#8220;Kata Dinda, mamanya wanita karir ma&#8221;</p>
<p>&#8220;Mama juga wanita karir, memangnya rina gak tau?&#8221; jawab mama sambil tersenyum.</p>
<p>&#8220;Karir itu sama dengan kerja Rina, kalo mamanya dinda kan kerja di kantor, kalo mama kerja di rumah, sama kan?&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&#8220;Mama, mama di mana?&#8221; Rina bergegas masuk rumah&#8230;</p>
<p>&#8220;Di dapur nak.&#8221; setengah berteriak mama menjawab.</p>
<p>&#8220;Mama, kenapa sih mama gak seperti mamanya dinda?&#8221; tanya Rina.</p>
<p>&#8220;Memang mamanya Dinda, seperti apa?&#8221; tanya mama kembali.</p>
<p>&#8220;Mamanya Dinda tuh ma selalu membelikan Dinda makanan yang enak-enak ma, pizza, spagetti, trus&#8230; macam-macam deh ma.&#8221;</p>
<p>Mama menghentikan kegiatannya mengaduk adonan roti.</p>
<p>&#8220;Rina, mau pizza, spagetti?? nanti mama buatkan ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Rina membayangkan pizza, spagetti dan segala macam masakan buatan mama, hmmm pasti enak, tapi&#8230;. &#8220;ah, gak mau, Rina mau yang kayak di beliin mamanya Dinda aja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Insya Allah ya nak, nanti kalo ayah pulang kita tanyakan ayah kapan kita bisa beli pizzanya.&#8221;</p>
<p>Sudah beberapa hari ini Rina bertanya seperti itu kepada mamanya. Rina adalah anak umur 5 tahun yang lucu, selalu ingin tahu. Setiap hari selalu saja ada pertanyaan yang di lontarkan Rina kepada mamanya. Mama Rina seorang pemilik toko roti yang ada di kota tersebut, rotinya enak, lembut dan harum. Rina pun sangat menggemari roti buatan mamanya.</p>
<p>Teman-teman Rina senang sekali main ke rumah Rina, karena cemilan roti kecil-kecil selalu tersedia buat mereka.</p>
<p>Tapi sejak kedatangan tetangga baru, Rina selalu bergegas pulang tanpa menunggu teman-temannya, karena ada anak baru&#8230; namanya Dinda. Rina sudah berkenalan dengan Dinda&#8230;. anak yang manis, sopan dan baik. Rina sering mengamati tetangga barunya itu&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"> ***</p>
<p>&#8220;Mama&#8230;.. mama dimana?&#8221; teriak Rina</p>
<p>Sekali lagi Rina bergegas masuk kedalam rumah, tanpa mengucapkan salam dan tanpa sempat membuka sepatunya&#8230;.</p>
<p>Mama menggeleng-geleng melihat Rina masuk ke dapur sambil setengah berlari&#8230;.</p>
<p>&#8220;Buka dulu sepatu mu nak, ganti dulu baju mu, bau keringat tuh.&#8221;ujar mama sambil menutup hidungnya dan tersenyum</p>
<p>Tanpa memperdulikan ucapan mamanya Rina langsung berbicara, &#8220;mama, tadi Rina ketemu Dinda di depan rumah, Rina di undang main kerumahnya ma&#8230;. boleh kan ma?&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh, tapi buka dulu sepatunya, ganti baju dan makan dulu sini, mama sudah buatkan sop kesukaan mu.&#8221; jawab mama.</p>
<p>Hmmm&#8230;. bau sop memang sangat menggoda, apalagi baunya bertabrakan dengan harum roti yang sedang di panggang mama, tapi Rina tidak menghiraukan itu semua&#8230;. dia bergegas berlari masuk kamar dan mengganti bajunya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&#8220;Mama, mama di mana?&#8221; teriak Rina</p>
<p>&#8220;Biasa nak di dapur!&#8221;</p>
<p>Rina berlari dan langsung memeluk mama dari belakang.</p>
<p>&#8220;Eh, eh&#8230;. kanapa ini? mama kebingungan sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Rina</p>
<p>&#8220;Mama, gak usah jadi kayak mamanya dinda deh &#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rina, akan makan apa saja makanan buatan mama&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi Rina main kerumah Dinda&#8230;. sepi ma, mamanya Dinda jarang di rumah, trus Dinda gak pernah tuh di buatin makanan sama mamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malahan Dinda bilang dia mau mamanya seperti mama Rina&#8221;, ujar Rina sambil tetap memeluk mamanya dari belakang</p>
<p>&#8220;Alhamdulillah deh kalo begitu, berarti mama gak harus jadi orang lain&#8221;,  ujar mama.</p>
<p>&#8220;Maksud mama apa?&#8221; tanya Rina</p>
<p>&#8220;Kalau mama harus jadi kayak mamanya Dinda, berarti mama harus jadi kayak orang lain dong, memangnya Rina mau mama nanti gak pernah ada di rumah? trus gak bisa bikinin sop kesukaan Rina lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Waahh&#8230; enggak mau maa&#8230; mulai sekarang Rina cuma mau mama Rina yang seperti ini aja&#8221;. Ujar Rina sambil memeluk mamanya lebih erat.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/ini-mamaku-bagaimana-mamamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu, Kaulah Segalanya</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/ibu-kaulah-segalanya/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/ibu-kaulah-segalanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 23:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nada_Salsabila</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3155</guid>
		<description><![CDATA[My Mom, sudah banyak yang mengatakan bahwa ibuku pahlawanku. Tapi, bagiku, ibu bukan sekedar pahlawan bagiku dan keluargaku. Ia segala-galanya bagi kami. Tanpanya, kami takkan pernah bisa menjadi seperti sekarang ini. Aku takkan pernah bisa membayangkan dan tak pernah ingin tuk membayangkan bagaiman jika ibu meninggalkanku tuk selama-lamanya. Tak ada lagi orang tua yang bisa menemaniku. Karena semenjak ayah meninggal ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>My Mom, sudah banyak yang mengatakan bahwa ibuku pahlawanku. Tapi, bagiku, ibu bukan sekedar pahlawan bagiku dan keluargaku. Ia segala-galanya bagi kami. Tanpanya, kami takkan pernah bisa menjadi seperti sekarang ini. Aku takkan pernah bisa membayangkan dan tak pernah ingin tuk membayangkan bagaiman jika ibu meninggalkanku tuk selama-lamanya.<span id="more-3155"></span></p>
<p>Tak ada lagi orang tua yang bisa menemaniku. Karena semenjak ayah meninggal 13 tahun yang lalu. Ibu lah penopang hidup kami. Ia bekerja sekuat tenaga tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai seorang ibu dan seorang kepala keluarga. Berusaha tuk menjadi ibu sekaligus seorang ayah bagi anak-anaknya yang saat itu masih terlalu belia menurutnya, untuk kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Anak-anak yang bahkan mungkin masih mengharapkan adanya keluarga utuh bagi mereka. Anak-anak yang masih iri dengan teman-temannya yang memiliki keluarga yang sempurna. Saat itu, umurku baru 3,5 tahun. Kakakku baru kelas 1 SMA dan 2 SMP.</p>
<p>Saat itu, ibu berkata pada kami bahwa ini hanyalah sebuah cobaan yang harus kita lalui, tak boleh menyerah meski tanpa ayah. Ibu pun berjuang agar ia dapat tegar dan tak pernah menampakkan kesedihannya pada orang lain terutama anak-anaknya. Ia tak mau anak-anaknya terpuruk, ia berusaha tuk bangkit tanpa merepotkan orang lain. Ibuku tak pernah mau bergantung pada orang lain, walaupun itu keluarganya sendiri. Ia tak mau mengkhawatirkan orangtuanya yang saat itu telah berumur senja.</p>
<p>Ibu melakukan segalanya agar anaknya dapat bahagia. Dapat sukses. Dapat menjadi orang yang lebih baik dari dirinya. Kami tak pernah ingin mengecewakannya. Meski telah banyak hal yang kami perbuat dan membuatnya marah, sedih, dan kecewa pada kami. Kami mengerti akan hal itu. Tapi sangat sulit bagi kami untuk mengucapkan kata maaf padanya. Kami berusaha membuatnya bangga. Ia satu-satunya harta paling berharga yang pernah kumiliki.</p>
<p>Ibu tak pernah mengharapkan apa-apa dari kami, apalagi itu adalah harta. Ibu hanya ingin anaknya sukses dan menjadi orang yang lebih baik darinya. Hanya itu mimpi dan harapan. Hanya sesederhana itu permintaan orangtua kepada Tuhan. Untuk membuat anaknya berhasil. Karena itulah satu-satunya hal yang membuat hidupnya lebih berarti.<br />
Ibu&#8230;<br />
Ibu&#8230;.<br />
Hanya itu yang bisa kukatakan. Semua indra membisu bak sedang hari penentuan.<br />
Karena cinta ini takkan pernah bisa diucapkan dengan kata-kata<br />
Dan tak kan ada satupun yang tahu bagaimana kita telah terikat<br />
bagai untaian mata rantai<br />
Hidupmu adalah hidupku&#8230;<br />
Itulah misi seorang ibu untuk anaknya<br />
Ibu..<br />
Kau telah banyak sekali kehilangan<br />
dan kami takkan pernah tahu bagaiman tuk mengucapkan<br />
Maaf&#8230;<br />
padamu, kekecewaanmu telah tertancap dalam hati kami<br />
serasa teriris bila kau melihat kami tak lagi berdaya<br />
Ibu&#8230;<br />
apapun bahasanya<br />
dengan I love you, atau saranghamida<br />
tapi arti yang kita sampaikan tetaplah sama<br />
dengan isyarat maupun kata<br />
itu tetaplah sama<br />
Jangan tinggalkan kami<br />
IBU&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/ibu-kaulah-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantai Ibu</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pantai-ibu/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pantai-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 00:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eka_Aristiyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3147</guid>
		<description><![CDATA[Neina sedang mendekap sebuah buku lalu berlari mencari Bundanya. “Emh, Bunda dimana ya?” kata Neina dalam hati. Buku yang sedang dibawa Neina adalah buku pemberian nenek ketika Neina baru mulai masuk sekolah dasar, tiga tahun yang lalu. Waktu itu Neina hanya menyimpan buku itu sebagai kenang-kenangan. Ia tak berniat menjadikannya sebagai buku catatan sekolah. Buku pemberian nenek itu bersampul coklat ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">Neina sedang mendekap sebuah buku lalu berlari mencari Bundanya. “Emh, Bunda dimana ya?” kata Neina dalam hati.</p>
<p>Buku yang sedang dibawa Neina adalah buku pemberian nenek ketika Neina baru mulai masuk sekolah dasar, tiga tahun yang lalu. Waktu itu Neina hanya menyimpan buku itu sebagai kenang-kenangan. Ia tak berniat menjadikannya sebagai buku catatan sekolah.</p>
<p>Buku pemberian nenek itu bersampul coklat seperti pasir. Mempunyai hiasan tali kecil yang menjadi bingkai mengelilingi setiap sisinya. Di tengah bingkai itu tertempel hiasan dari cangkang-cangkang kerang kecil berwarna putih. Jika melihat buku tersebut, Neina jadi teringat pantai.<span id="more-3147"></span></p>
<p>“Bun&#8230;Bunda tau tidak Neina akan bertamasya kemana dengan teman-teman akhir minggu nanti?”</p>
<p>“Emm, museum kan?” jawab bunda sambil meremas pipi Neina dengan gemas.</p>
<p>“Emm, Bunda salah tuh! Ayo tebak lagi!”</p>
<p>“Kali ini pasti bener nih. Ke kampung wisata!” kata Bunda sambil mengedipkan sebelah matanya.</p>
<p>Neina tertawa geli melihat bundanya. “Hihihi, bunda salah lagi.” Kemudian merangkul bunda yang sedang duduk di kursi bambu.</p>
<p>“Trus apa dong Sayang jawaban yang benar?</p>
<p>“Emm, Neina mau ke pantai dong.”</p>
<p>“Waaah, Neina senang sekali nih. Neina kan suka laut seperti nenek.”</p>
<p>“Iya, nanti setelah pulang dari pantai, Neina akan menuliskan cerita perjalanan dan semua yang Neina lihat di pantai pada buku pemberian nenek ini.” kata Neina sambil menunjukkan buku itu.</p>
<p>“Iya, sayang. Nanti Bunda boleh kan membaca cerita Neina dalam buku itu?”</p>
<p>“Iya, boleh.” jawab Neina sambil mengangguk mantap.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Besok pagi adalah hari keberangkatan Neina berwisata ke pantai. Namun, malam ini Neina demam tinggi. Terdapat banyak bintik-bintik kecil di kulit Neina.</p>
<p>“Neina tak usah ikut pergi ke pantai dulu ya, Sayang.” kata bunda lembut sambil membelai kening Neina.</p>
<p>“Gak mau, pokoknya Neina mau pergi ke pantai.” jawab Neina dengan sedih.</p>
<p>Keesokan harinya, Neina tidak diijinkan berangkat oleh ayah dan bunda. Suhu tubuh Neina masih tinggi. Neina hanya berbaring di kasur.</p>
<p>“Sarapan dulu ya, Sayang. Sini Bunda suapin.” Neina hanya menggeleng dan tak mau membuka mulutnya. “Lain kali kita pergi bertamasya ke pantai dengan ayah dan nenek juga ya. Sekarang pokoknya Neina harus sembuh dulu.” bujuk bunda. Neina tetap diam.</p>
<p>“Em, Neina marah sama Bunda ya? Maafkan Bunda ya, Sayang.” Bunda tersenyum lalu meninggalkan kamar.</p>
<p>Ayah datang ke kamar dengan senyum yang merekah. “Putri ayah masih panas nih.” Tangan ayah memegang kening Neina. “Eh, mau sembuh gak Sayang? Biar bisa cepat menyusul teman-teman ke pantai.”</p>
<p>Mata Neina bersinar mendengar kata-kata ayah. Tandanya, Neina kembali bersemangat. Neina pun mengangguk mantap.</p>
<p>“Ehem, kalau begitu Neina makan dulu lalu kita pergi ke dokter untuk periksa ya? Oke?”</p>
<p>Neina tersenyum. “Oke,” jawabnya sambil mengacungkan jempol.</p>
<p>“Tos dulu dong!” dan merekapun mengadukan telapak tangan kanan masing-masing.</p>
<p>Ayah menyuapi Neina dengan sabar. Setelah selesai sarapan, ayah dan Neina pergi ke dokter untuk memeriksakan sakit Neina.</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Neina cantik, Om dokter mau kasih tahu nih tentang sakitnya, Neina.”</p>
<p>“Iya, Om Dokter. Sip,” kata Neina sambil mengacungkan jempol dan tersenyum.</p>
<p>“Sakit Neina ini namanya cacar air. Neina tak boleh mandi dulu ya. Bintik-bintik kecil yang banyak itu tuh jangan digaruk ya Sayang. Kalau digaruk, nanti bisa luka. Kalau sudah luka, nanti bisa mengoreng.”</p>
<p>“Ih, koreng.”</p>
<p>“Iya, makanya jangan digaruk ya. Nanti Om dokter beri salep biar bintik-bintiknya kabur. Biar gak cekit-cekit lagi rasanya.”</p>
<p>“Hu um. Kaya digigit nyamuk.”</p>
<p>“Obat yang ini untuk demamnya. Jangan lupa diminum ya, Sayang.”</p>
<p>“Bilang terima kasih dong sama Om Dokter.”</p>
<p>“Iya. Terima kasih ya Om Dokter.”</p>
<p>“Iya, sayang. Semoga cepat sembuh ya.”</p>
<p align="center">***</p>
<p>Saat Neina dan ayah sampai di rumah, hari telah gelap. Ayah dan Neina terjebak macet saat hendak pulang ke rumah. Betapa terkejutnya Neina saat masuk ke dalam kamar. Sebuah sisi dinding kamar Neina berubah menjadi sebuah pemandangan.</p>
<p>Sepulang dari rumah sakit, Neina terkejut melihat dinding kamarnya telah berubah. Sebuah sisi dinding kamarnya telah dilukis dengan pemadangan pantai. Ada pasir putih kecoklatan. Ada air yang berombak. Ada kumang dan kerang. Ada pohon kelapa yang melambai-lambai, dan ada Neina yang sedang bermain pasir. Langitnya biru dengan sedikit awan putih. Air lautnya masih jernih dan terlihat berwarna hijau kebiruan. Di langit terlihat beberapa burung terbang.</p>
<p>“Wah, indah sekali ya Yah?”</p>
<p>“Iya sayang. Pasti bunda nih yang melukis. Bunda kan pelukis jagoan.” Kata ayah tersenyum bangga.</p>
<p>“Neina baru tahu jika Bunda pandai melukis,” kata Neina dalam hati. “Bunda baik sekali membuat lukisan indah ini. Neina jahat sekali tadi tak mau bicara sama Bunda tadi.”</p>
<p align="center">***</p>
<p>“Halo sayang, selamat pagi. Bunda bawain sarapan nih.”</p>
<p>“Pagi juga Bunda.”</p>
<p>“Bunda pernah lho sakit cacar air. Rasanya gak enak. Pusing. Lemas dan gatal.”</p>
<p>“Makanya Bunda gak bolehin Neina pergi.”</p>
<p>“Hehe, iya sayang. Kok pinter sih?” Bunda membelai rambut Neina.</p>
<p>“Selain minum obat, kita harus makan teratur dan banyak istirahat supaya badannya tetap seger. Bugar. Supaya penyakitnya kabur.” Bunda memperagakan gaya Om Ade Rai yang binaragawan itu.</p>
<p>“Hehe, iya.” Neina menganggukkan kepala. “Bunda, mau baca tulisan Neina gak? Waktu itu kan Neina bilang mau menulis setelah pergi ke pantai.”</p>
<p>“Emm, boleh. Sini Bunda baca.” Neina memberikan bukunya pada Bunda. Begini isi buku tersebut.</p>
<p>~<em>Bunda seperti pantai yang teduh. Membuat Neina suka dan terus suka untuk dekat-dekat dengannya.~ </em></p>
<p><em>Neina tak menyangka kalau Bunda Neina pandai melukis. Bunda Neina seperti bidadari. Bunda bisa membuat pantai ada di kamar Neina.</em></p>
<p><em>Neina tak perlu ke pantai yang sebenarnya untuk merasa senang. Karena hari ini di kamar pun ada pantai. Neina sangat senang. Neina sayang Bunda. Pantai itu Nenina bernama Pantai Ibu.</em></p>
<p>“Oh sayang, terima kasih ya sudah tidak marah pada Bunda. Peluk Bunda sini.” Bunda dan Neina berpelukan erat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pantai-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gina dan Gina</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/gina-dan-gina/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/gina-dan-gina/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jan 2013 00:38:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dilladp</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3133</guid>
		<description><![CDATA[“Mama jahat! Mama nyebelin!” bentakku sambil berlari ke luar rumah. Nggak tahu kenapa, rasanya aku kesal sekali pada Mama. Oh, aku tahu. Karena Mama nggak mengizinkan aku untuk ikut piknik bersama teman-temanku ke Taman Safari hari Sabtu nanti. Padahal aku sudah bilang, aku pergi ke sana diantar oleh ayahnya Sandra, temanku, dan perginya naik mobil. Tapi tetap saja, Mama nggak ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">“Mama jahat! Mama nyebelin!” bentakku sambil berlari ke luar rumah.</p>
<p>Nggak tahu kenapa, rasanya aku kesal sekali pada Mama. Oh, aku tahu. Karena Mama nggak mengizinkan aku untuk ikut piknik bersama teman-temanku ke Taman Safari hari Sabtu nanti. Padahal aku sudah bilang, aku pergi ke sana diantar oleh ayahnya Sandra, temanku, dan perginya naik mobil. Tapi tetap saja, Mama nggak mau ngizinin.<span id="more-3133"></span></p>
<p>Padahal&#8230;. Aku tahu, sih, maksud Mama nggak ngizinin aku. Semua ini gara-gara penyakit mabuk daratku. Huh! Sampai usiaku yang kesepuluh, memang aku masih saja nggak tahan kalau harus naik kendaraan, apalagi kendaraan roda empat seperti mobil atau angkot. Bawaannya muaaaal terus. Aku tahu, Mama kasihan sama aku karena setiap aku mabuk darat, wajahku pasti pucat sekali dan nggak nafsu makan. Dan aku mengerti kalau Mama nggak mau merepotkan ayahnya Sandra.</p>
<p>Namun, tetap saja aku kesal!</p>
<p>Aku berlari ke luar rumah, menuju taman tempat aku biasanya main ayunan di kala sore bersama teman-teman. Sewaktu di tengah jalan, karena saking kencangnya aku berlari, kakiku terantuk batu yang membuat keseimbanganku oleng dan,</p>
<p>BRUKKK!</p>
<p>Aku jatuh terjembab dengan lutut yang mendarat mulus di atas aspal. Untung saja aku sempat menahan tanganku sehingga wajahku aman dari benturan.</p>
<p>Aku mencoba bangkit, tapi rasa sakit di kaki ini ngilu sekali, rasanya seperti tidak bisa berjalan lagi. Aku ingin menangis, tetapi aku malu kalau dilihati orang-orang. Perlahan-lahan aku mencoba bangkit, tapi ternyata sulit. Sepertinya darah yang mengalir segar dari lututku lumayan banyak.</p>
<p>“Dik, kamu nggak apa-apa?” Sebuah suara perempuan lembut menyapaku.</p>
<p>“Sakit, Kak&#8230;” ringisku, tak mampu mendongak dan melihat wajahnya.</p>
<p>Dan tiba-tiba saja, tangannya yang hangat sudah menarikku dan memapahku untuk berdiri. Aku paksakan diri walau tetes demi tetes darah masih mengalir.</p>
<p>“Rumah Kakak ada di depan, Kakak obatin kamu di sana, ya?” tanyanya sambil menatapi wajahku. “Nama kamu siapa?”</p>
<p>Kali ini aku beranikan diri untuk menengok dan menatap wajah penyelamatku. Betapa terkejutnya aku melihat wajahnya yang begitu mirip denganku! Rambutnya ikal halus berwarna hitam, mata beningnya berwarna cokelat kehitaman, dan perawakannya tidak terlalu tinggi. Semua ciri-ciri itu persis seperti apa yang aku punya. Yang membedakan adalah, wajah kakak di depanku ini tampak lebih tua berpuluh-puluh tahun dibandingkan aku. Menatap wajahnya sama seperti menatap wajahku di masa depan.</p>
<p>“Gina, Kak,” jawabku, berusaha menyembunyikan kekagetan.</p>
<p>“Gina?” Sengirnya. “Kebetulan banget, nama kamu sama kayak nama Kakak.”</p>
<p>Kalau saja aku sedang meminum sesuatu, pasti aku sudah langsung tersedak. Bukan cuma wajahnya yang mirip, namanya pun ternyata sama!</p>
<p>Kak Gina memapahku menuju rumahnya yang sama sekali terasa asing. Aneh. Padahal tadi aku jatuh di sekitaran kompleks rumahku, tetapi kenapa lingkungan ini terasa berbeda? Bangunan-bangunan rumahnya pun sangat modern, dengan tembok yang dihiasi banyak kaca. Bahkan aku berani bersumpah, tadi aku melihat sebuah robot anjing berkeliaran di jalanan! Kepalaku terasa pusing, ini di mana, sih?</p>
<p>Rumah Kak Gina kurang lebih sama dengan rumah-rumah yang aku lihat tadi. Rumahnya tidak besar, tapi sangat tinggi dan terang karena tersinari cahaya matahari yang masuk dari kaca-kaca besar. Perabot rumahnya canggih-canggih. Bahkan ketika membuka pintu tadi, Kak Gina hanya tinggal menyebutkan kode dan pintunya terbuka sendiri!</p>
<p>Di dalam, Kak Gina mendudukkanku di salah satu kursi di ruang makan. Dia memiliki seorang anak perempuan yang kurang lebih seumuran denganku. Anak Kak Gina sedang asyik bermain <em>console game</em> yang terproyeksi langsung ke udara. Sungguh, sebelumnya aku tidak pernah melihat ada mainan serupa itu!</p>
<p>Sementara Kak Gina mengambil kotak P3K, aku masih merasa takjub dengan kecanggihan rumahnya. Aku jadi penasaran, Kak Gina beli semua ini dari mana, ya? Sampai suatu ketika, aku menangkap sebuah mesin yang terpajang di dinding, menampilkan deretan angka-angka digital.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>18-02-2033</strong></p>
<p align="center"><strong>14:15</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tenggorokanku tercekat. “Kak?”</p>
<p>“Iya?” Kak Gina menghampiriku sambil membawa kotak P3K.</p>
<p>“Itu apa, Kak?” tunjukku pada mesin berangka berwarna merah tersebut.</p>
<p>“Oh. Itu kalender digital. Memangnya kamu nggak punya di rumah?” tanyanya sambil mencuci lukaku.</p>
<p>Aku menatap benda itu lama. Kalender digital? Perasaan di rumahku masih memakai kalender dari karton, dan&#8230; tunggu. Angka apa itu? 2033? 2-0-3-3?!</p>
<p>“Kak,” panggilku lagi dengan mulut menganga.</p>
<p>“Iya?”</p>
<p>“Sekarang tahun berapa?”</p>
<p>“Jangan-jangan kepala kamu juga kebentur, Gin? Kok lupa sekarang tahun berapa? Tahun 2033, Sayang.”</p>
<p>Suaranya yang tenang itu justru terdengar seperti petir di telingaku. Ya Tuhan! Mengapa aku bisa ada di sini? Mengapa aku bisa berada di masa—aku menghitung dengan jemariku—20 tahun mendatang dari masaku? Dan, siapa sebenarnya Kak Gina ini?</p>
<p>“Kak,” aku tidak dapat menahan untuk tidak bertanya.</p>
<p>“Iya?”</p>
<p>“Umur Kakak berapa?”</p>
<p>Kak Gina tersenyum sambil merekatkan perban di lututku. “Tiga puluh, Sayang.”</p>
<p>Aku menghitung-hitung umurku. Sekarang, aku berusia sepuluh. Dan kini, aku berada di masa 20 tahun mendatang. Itu tandanya di masa ini aku akan berusia&#8230; tiga puluh! Dan orang ini&#8230; orang ini&#8230; Aku sampai gemetaran untuk mengakuinya. Namun, aku yakin bahwa aku benar. Bahwa Kak Gina di hadapanku ini adalah&#8230; diriku sendiri 20 tahun mendatang! Ya Tuhan, tolong katakan ini semua mimpi! Aku ingin pulang, aku ingin bertemu Mama! pekikku dalam hati.</p>
<p>“Nadia, kok main terus? Udah ngerjain PR belum?” tanya Kak Gina memecah lamunanku.</p>
<p>Anak kecil yang dari tadi asyik bermain <em>game</em> tersebut menoleh. Wajahnya mirip sekali denganku&#8230;. Dan, jangan bilang dia adalah anakku?!</p>
<p>“Nanti aja Ma,” ujarnya, kemudian kembali bermain lagi.</p>
<p>“Kok nanti, Nadia? Hayo, kamu mulai malas-malasan, ya.”</p>
<p>“Nggak males, Ma, Nadia kan bilang nanti aja ngerjainnya.”</p>
<p>“Kemarin kamu juga bilang gitu, terus malemnya ketiduran. Kemarin jadi nggak ngerjain PR, kan?”</p>
<p>Nadia diam tidak menjawab.</p>
<p>“Kamu mau nggak ngerjain PR lagi? Mama beliin kamu mainan bukan berarti buat bikin kamu jadi males, ya,” tegas Kak Gina.</p>
<p>“Mama cerewet, ah! Nyebelin!” Nadia bangkit dan pergi, membanting pintu sebelum masuk ke kamarnya.</p>
<p>Aku terperangah menatapi kejadian itu. Bukankah tingkah Nadia persis seperti tingkahku pada Mama tadi?</p>
<p>“Maafin, ya, kamu harus lihat kejadian tadi,” ujar Kak Gina lirih.</p>
<p>“Nggak apa-apa, Kak,” aku masih tidak memercayai kejadian barusan. Aku jadi sangat merasa bersalah melihat wajah Kak Gina yang ditekuk seperti itu. Apakah tadi Mama berwajah sama seperti Kak Gina sekarang? Sebersit perasaan sedih memenuhi dadaku. Nggak seharusnya aku seperti itu&#8230;.</p>
<p>“Nadia itu memang agak sulit diatur, tapi sebenarnya dia anak yang sangat manis. Kakak jadi teringat diri Kakak dulu waktu seumuran dia, persis banget. Tukang main, tukang ngebantah orang tua&#8230;.” Suaranya terhenti sampai di situ. “Kalau aja Kakak punya mesin waktu buat memutar ulang masa kecil Kakak, Kakak berjanji akan jadi anak yang lebih baik. Karena sekarang Kakak sadar kalau menjadi orang tua itu ternyata sulit&#8230;.”</p>
<p>Aku hampir menangis mendengar kata-katanya. Aku ingin sekali berteriak padanya bahwa aku adalah dirinya, tapi apa Kak Gina akan percaya? Yang ada sekarang ini aku hanya bisa terdiam sambil mengingat sosok Mama.</p>
<p>“Kak,” panggilku. “Apa orang tua Kakak masih sehat?” tanyaku dengan jantung berdebar. Aku takut mendengar jawaban darinya. Bagaimana kalau Mama dan Papa sudah&#8230;? Ah, aku tak kuasa melanjutkannya.</p>
<p>“Alhamdulillah, dua-duanya masih sehat, kok. Tapi tetep aja, rasanya sampai sekarang Kakak masih menyesal karena sering membantah omongan orang tua Kakak, apalagi Ibu Kakak.”</p>
<p>Aku bernapas lega sekaligus merasa bersalah mendengarnya.</p>
<p>“Gina, Gina!” terdengar suara familier datang dari arah ruang depan. Betapa terkejutnya aku ketika melihat sesosok ibu paruh baya datang dengan mengenakan setelan blus krem dengan celana bahan berwarna hitam. Wajahnya tampak bersinar walau dihiasi oleh kerutan. Matanya yang cokelat kehitaman persis seperti milikku. Sementara rambutnya yang dicepolnya ke atas mulai ditumbuhi rambut-rambut putih di bagian depan. Mama!</p>
<p>Aku terperanjat melihat sesosok itu di hadapanku. Walau Mama masih tampak sehat dan segar, faktor usia tidak dapat dibohongi. Wajahnya kalah dimakan waktu. Kulit putih dan mulusnya yang kukenal kini berkerut-kerut seperti karet.</p>
<p>Mama&#8230;.</p>
<p>Aku ingin mendekat dan mendekapnya. Aku ingin merasakan sentuhan tangannya.</p>
<p>Aku&#8230;. Aku&#8230;.</p>
<p>“Gina? Gina? Gina bangun, Sayang.”</p>
<p>Sayup-sayup terdengar suara Mama memanggil namaku. Aku membuka mata perlahan, meski cepat kututup lagi karena cahaya lampu yang menyilaukan.</p>
<p>Kurasakan kepalaku berdenyut hebat. Dan ketika aku membuka mata, Mama berada di samping sambil menggenggam tanganku. Matanya merah dan sembab. Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.</p>
<p>“Gina! Alhamdulillah kamu udah sadar, Mama khawatir banget sama kamu,” Mama menciumi kepalaku yang terbalut perban. Aku bingung, memangnya aku kenapa sampai bikin Mama khawatir? Dan kenapa aku ada di sini? Juga kenapa kepalaku diperban?</p>
<p>“Tadi kamu jatuh waktu lari ke luar rumah. Kepala kamu kebentur aspal, untung lukanya nggak seberapa,” seolah tahu seluruh pertanyaanku, Mama menjelaskan.</p>
<p>“Aku kebentur aspal?” ulangku. Kemudian aku teringat akan pertemuanku dengan Gina yang lain, Mama yang lain, dan Nadia kecil&#8230;. Apa semua itu berarti mimpi?</p>
<p>Mama mengangguk sambil tersenyum lega. “Maafin Mama, ya, Gina, kalau Mama masih belum ngertiin kamu,” ujarnya yang membuat hatiku terasa sakit.</p>
<p>“Nggak Ma, Mama nggak salah, kok. Justru aku yang durhaka, nggak pernah mau denger apa kata Mama,” jawabku dengan suara tercekat.</p>
<p>“Kamu nggak durhaka, Sayang, nggak,” Mama mendekapku erat. Ah, persis seperti yang aku inginkan. “Kamu selalu jadi anak yang paling Mama banggakan. Mama sayang kamu, Gina.”</p>
<p>Aku tidak tahu kejadian apa yang aku alami tadi. Entah mimpi, khayalan, atau imajinasi, yang pasti kejadian tadi membuat aku sadar akan satu hal: bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Ah, betapa bodohnya aku ini. Mulai sekarang aku berjanji tidak akan lagi membantah omongan Mama dan menyakiti hatinya.</p>
<p>“Gina juga sayang Mama,” aku menenggelamkan tubuhku dalam hangat pelukannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/gina-dan-gina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelukan Ibu</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pelukan-ibu/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pelukan-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2013 01:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>astri_hapsari</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3131</guid>
		<description><![CDATA[Ibu&#8230; Hari ini, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu? Sesuatu yang aku pendam lebih dari dua puluh tahun. Ya, lama sekali aku menyimpannya. Aku tak pernah sanggup mengatakannya. Karena aku sama sepertimu. Tak pandai mengungkapkan perasaan. Ibu&#8230; Aku ingin kau peluk. Apakah kau tahu, aku lupa kapan terakhir kau memelukku. Pelukan seorang ibu kepada putri kecilnya. Pelukan yang menghangatkan. Pelukan yang ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu&#8230;<br />
Hari ini, bolehkah aku mengatakan sesuatu kepadamu? Sesuatu yang aku pendam lebih dari dua puluh tahun. Ya, lama sekali aku menyimpannya. Aku tak pernah sanggup mengatakannya. Karena aku sama sepertimu. Tak pandai mengungkapkan perasaan.<span id="more-3131"></span></p>
<p>Ibu&#8230;<br />
Aku ingin kau peluk. Apakah kau tahu, aku lupa kapan terakhir kau memelukku. Pelukan seorang ibu kepada putri kecilnya. Pelukan yang menghangatkan. Pelukan yang menenangkan. Andai kau tahu, Ibu, dulu aku sempat menganggap kau tak menyayangiku. Kau jarang memelukku. Kau juga jarang menciumku. Hal itu membuatku merasa jauh darimu. Setiap kali punya masalah dengan teman-teman, aku diam saja. Menangis sendiri. Aku tak bisa mencurahkan perasaanku kepadamu. </p>
<p>Tapi terkadang aku heran. Ketika kita benar-benar jauh, aku sangat merindukanmu. Aku ingat ketika usiaku sembilan tahun. Kau mengantarku ke rumah simbah saat liburan sekolah. Kau tahu, Ibu, begitu kau pergi, aku menangis sesenggukan. Seolah kita terpisah jauh dan lama. Padahal jarak Purworejo &#8211; Klaten hanya tiga jam. Lalu di hari kedua di rumah simbah, aku sakit karena rindu kepadamu. Aku pun di antar Bude pulang. Sampai di Purworejo, rumah kosong. Untung kunci rumah dititipkan ke tetangga. Ternyata kau menyusulku ke Klaten. Ah, jaman dulu telepon masih menjadi barang mewah untuk kita. Jadilah aku dan kau <em>selisipan</em> di jalan. Menjelang Maghrib, kau sudah tiba kembali di Purworejo. </p>
<p>Aku senang bertemu kau lagi, Ibu. Namun aku tak mendapat pelukan rindu. Mungkin banyak yang mengira kau galak sehingga aku tak dekat denganmu. Ah, tidak. Ibuku seorang wanita Jawa yang lembut dan anggun. Sayangnya, ibuku begitu kaku. Ia tak pandai mengungkapkan rasa cintanya kepadaku.</p>
<p>Ibu&#8230;<br />
Andai kau mengerti, pelukan seorang ibu sangat berarti untuk anaknya. Karena jarang kau peluk, aku menjadi anak yang dingin. Aku kurang perasa. Dan terkadang cuek dengan sekitarku. Oh, tidak. Aku tidak menyalahkanmu, Ibu. Aku bersyukur Allah menumbuhkan kesadaran itu. Kemudian menuntunku belajar ilmu parenting. Dan ketika mengetahui arti penting sebuah pelukan, aku termenung. Tiba-tiba, aku merindukanmu, Ibu. Tiba-tiba, aku ingin kau peluk. Merasakan kehangatan rengkuhan tanganmu. Mencium harum tubuhmu. Mendengar lembut suaramu yang terasa menggelitik telingaku. Ah, Ibu. Aku sungguh merindukanmu. Namun sayang, kita terpisah lautan luas. Aku hanya mampu menyapamu melalui telepon. Tanpa sanggup mengatakan, aku rindu padamu. Karena aku tak terbiasa mengatakannya. Justru dengan Ayah, aku bisa berucap rindu. Sedari kecil, tangan kokoh Ayah yang sering memelukku.</p>
<p>Ibu&#8230;<br />
Tujuh bulan lalu ketika aku melahirkan cucumu, saat pertama kali tubuh mungilnya berada di dadaku, aku bertekad akan selalu memberikan pelukan untuknya. Bahkan sampai ia besar, aku tetap ingin memeluknya. Karena sampai kapan pun, ia adalah putri kecilku. Aku ingin ia menjadi seorang yang hangat dan care dengan sesama. Aku juga ingin selalu dekat dengannya. Menjadi orang pertama yang dicari bila ia mengalami masalah dan menumpahkan segala rasanya. Menantiku pulang kerja untuk membacakan cerita dan bersenda gurau. Bahkan sejak Aleisha, cucumu, masih dalam kandungan, aku sudah membiasakan membaca cerita untuknya. Kau tahu, Ibu, membacakan cerita dapat mendekatkan hubungan ibu dan anak. Namun kau jangan khawatir, Ibu. Aku akan membacakan cerita tentang seorang anak yang sangat menyayangi neneknya. Supaya Aleisha mencintaimu selalu. Aku juga akan mengajarkan untuk selalu memelukmu.</p>
<p>Ibu&#8230;<br />
Aku memang sedih tak pernah kau peluk. Tapi aku akan melupakan semuanya mulai detik ini. Jika Allah mengizinkan kita bertemu, aku akan memelukmu. Tak peduli kau tidak memelukku. Aku tetap akan memelukmu. Tightly. Karena aku sangat menyayangimu, Ibu. Aku menunggumu di Bekasi bulan ini. Namun, bila kau tak bisa datang untuk menengok Aleisha, tunggu kami pulang ke Sorong saat lebaran nanti. Aku dan Aleisha akan memelukmu bersama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/pelukan-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kepada Ibu yang kupanggil Mama</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/kepada-ibu-yang-kupanggil-mama/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/kepada-ibu-yang-kupanggil-mama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2013 01:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ipah</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3126</guid>
		<description><![CDATA[Ma, Ini Fata nulis surat buat Mama. Iya, Ma, Fata yang dulu pas Mama-Papa kasih nama Fata Hanifa, 20 tahun lalu, belum bisa ngapa-ngapain kecuali sembunyi di balik ketiak Mama dan ngemis ASI di sana. Sekarang bayi keempat dari kelima bayi Mama udah gede dan bisa urunan rame-rame buat beli pulsa modem, keren kan? Trus dipake buat nulis surat deh ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ma,</em><br />
Ini Fata nulis surat buat Mama. Iya, Ma, Fata yang dulu pas Mama-Papa kasih nama Fata Hanifa, 20 tahun lalu, belum bisa ngapa-ngapain kecuali sembunyi di balik ketiak Mama dan ngemis ASI di sana. Sekarang bayi keempat dari kelima bayi Mama udah gede dan bisa urunan rame-rame buat beli pulsa modem, keren kan? Trus dipake buat nulis surat deh internetnya! Suratnya Fata bikin diam-diam dan diposting ke blog, biar Mama gak bisa baca. Kan Mama gaptek, make Ms. Word 2007 aja bingung, hehehe #plak #janganditiruyaTakita <span id="more-3126"></span></p>
<p><em>Ma,</em><br />
Alasan sebenernya karena Fata malu kalo suratnya Mama baca. Ya, karena sejak kecil –meski kayaknya sampai sekarang Fata tuh kecil terus kalo lagi deket Mama –gak kebiasa aja jujur sama Mama. Saking gak biasanya, Fata lebih pewe curhat ke Twitter daripada Mama, tul gak tuips? *brb ngetwit* #plak #plak #janganditiruyaTakita. Terlebih karena Fata malu pernah sedih karena Mama bukan bidadari!</p>
<div id="attachment_3127" class="wp-caption aligncenter" style="width: 195px"><a href="http://indonesiabercerita.org/wp-content/uploads/2013/01/mommy.jpg"><img class="size-medium wp-image-3127 " src="http://indonesiabercerita.org/wp-content/uploads/2013/01/mommy-185x300.jpg" alt="" width="185" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Fata dan Mama</p></div>
<p><em>Ma,</em><br />
Iya sih, Papa emang bukan Jaka Tarub makanya gak mungkin nyalahin Papa, karena itu ntar juga jadi nyalahin Mamicik-Papicik yang udah ngelahirin Papa hehehe #plak #plak #plak. Oke, Fokus. Ya gimana ya, soalnya Mama galak banget sih, suka ngomel-ngomel lagi, trus suka nyubit Fata kenceng-kenceng sampai rasanya kayak diceburin ke got #lah?. Tuh, mana ada bidadari yang kayak gitu?!!<br />
<em>Ma,</em><br />
Di dongeng-dongeng gitu atau di sinetron yang di tipi-tipi, sosok Ibu tuh biasanya kayak bidadari. Apalagi Ibunya si Dulce Maria, bidadari beneran malah! Ketahuan niye kenapa dulu Fata gak pernah didongengin, biar Fata kecil gak pernah nyeletuk, “trus kok Mama galak?” dan Mama kesindir hehehehe #plak #plak #plak #plak. Ya, bidadari itu pokoknya lemah lembut, pengasih dan penyayang, baik dan gak nyakitin anaknya, suka masak yang enak-enak, cantik dan…. gaul.<br />
<em>Ma,</em><br />
Tapi herannya Mama gak pernah marah Fata mikir gitu. Tapi emang Mama gak pernah tahu sih hehehehe. Tapi sekarang tahu kan Ma? Tahu kan kalo anaknya pernah mikir seanarkhi itu tentang Ibunya sendiri yang udah susah payah ngebesarin dia dari sejak rambutnya kriting sampai pakai krudung gini? Tahu kan kalo anaknya se-gak-berterima-kasih-banget gitu sama Ibunya yang pontang-panting ngegedein dia dan abang-kakak-adiknya sendirian gak pake pembantu? Tahu kan kalo akhirnya surat ini ada fungsinya buat Mama? #yakalikalomamabacasih #malahnantang #plak<br />
<em>Ma,</em><br />
Kemarin fata masuk angin parah dan mama gak marah. Perut dan punggung fata penuh diolesin balsem paling panas di dunia, geliga. Ah, emang bukan mama deh kalau nggak gak tega sama anaknya. Rasanya tiba-tiba ingin jadi anak kecil lagi. Memulai masa kecil yang baru lagi. Masa kecil yang penuh rasa syukur. Rasa syukur meski mama bukanlah bidadari seperti di tivi.<br />
<em>Ma,</em><br />
Setelah fata pikir-pikir, bidadari di tivi gak sekeren itu ternyata. Mereka cuma akting. <strong>Dan keluarga-keluarga di dunia ini memang gak ada yang sempurna. Cukuplah dengan kita begini adanya, bahagia itu sederhana</strong>. Sudah cukup papa sekarang dengan kerjaan barunya yang bikin makin sibuk, mama jadi dosen lagi di Aceh, cica SMA di sana, kak dyra udah punya rumah sendiri dan ngelahirin adik bayi lagi, dan fata, bang gagas, &amp; bang attar ngurus rumah di dayu sebisanya.<br />
<em>Ma,</em><br />
Sudah cukup. Sudah cukup pula fata bersedih bahwa mama bukan bidadari. Karena yang sekarang fata sedihkan adalah <strong>betapa fata belum mampu membalas semua pengorbanan mama</strong>. Tapi setidaknya keberadaan fata di jogja mengurangi frekuensi marah-marah mama yang bikin mama jadi makin gak mirip bidadari.<br />
<em>Ma,</em><br />
<em>Terima kasih.</em><br />
Maaf kemarin lupa kasih chitato pas tanggal 22 Desember 2012.</p>
<p>Dari <strong>anakmu yang keempat</strong>. Biasadipanggil, Fat.</p>
<div id="attachment_3128" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://indonesiabercerita.org/wp-content/uploads/2013/01/papa.jpg"><img class="size-medium wp-image-3128 " src="http://indonesiabercerita.org/wp-content/uploads/2013/01/papa-300x259.jpg" alt="" width="300" height="259" /></a><p class="wp-caption-text">fata dan papa</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/kepada-ibu-yang-kupanggil-mama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mamaku Tercinta</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/mamaku-tercinta/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/mamaku-tercinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 08:34:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maulida</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3119</guid>
		<description><![CDATA[Mama&#8217; begitu biasa aku memanggil ibuku tercinta. Mama&#8217; itu orangnya gampang dan cepet banget akrab sama orang. Aku inget banget pas pergi bareng mama naik angkot, mama selalu berhasil dengan mudahnya ngajak orang lain yang ada di bemo untuk ngobrol, entah ngobrolin tentang pak supir angkot yang kadang-kadang nyupirnya gak sesuai aturan atau ngobrolin hal-hal lain yang bikin suasana di ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;" align="center">Mama&#8217; begitu biasa aku memanggil ibuku tercinta. Mama&#8217; itu orangnya gampang dan cepet banget akrab sama orang. Aku inget banget pas pergi bareng mama naik angkot, mama selalu berhasil dengan mudahnya ngajak orang lain yang ada di bemo untuk ngobrol, entah ngobrolin tentang pak supir angkot yang kadang-kadang nyupirnya gak sesuai aturan atau ngobrolin hal-hal lain yang bikin suasana di dalam angkot jadi gak &#8216;garink&#8217; <span id="more-3119"></span></p>
<p>Kalau aku lagi naik becak, mama juga selalu sukses ngajak ngobrol bapak tukang becaknya,darimanapun dan gimanapun keadaan tukang becaknya, mau orang madura, orang jawa, tua atau muda.</p>
<p>Kalaupun aku gak ikut mama&#8217; pergi, mama&#8217; biasanya nyeritain ke aku, beliau tadi ketemu sama siapa dan ngobrol apa aja, mama&#8217; biasanya milihin beberapa obrolannya sama orang-orang yg ditemuin tadi yang menurut mama&#8217; aku bisa ambil hikmah dari ceritanya.</p>
<p>Gak heran, mungkin aku mewarisi sedikit kebiasaan mama yang suka bercerita.</p>
<p>Oh iya, mama&#8217;ku itu orangnya juga cukup asertif, mama&#8217; selalu ngasi tau apa yang ada di pikirannya dengan gamblang, gak terlalu suka ditutupin. Mama&#8217; lebih suka ngomongin langsung ke orang tentang apa yang sebaiknya diperbaiki, daripada ngomongin orang di &#8216;belakang&#8217; dan ngebiarin orang tersebut gak tau gimana dia bisa lebih baik dari biasanya.  Menurutku itu salah satu bentuk kasih sayang mama&#8217; ke orang. Meskipun kadang-kadang orang lain nangkepnya mama&#8217; agak gak bisa ngejaga perasaan orang lain.</p>
<p>Mama&#8217; itu juga moodbooster, kalau aku lagi bete&#8217; ngerjain tugas di kamar, aku selalu nyamperin mama&#8217; untuk sekedar meluk, ngobrol, atau nonton tv bareng. Kalau nonton tv bareng mama&#8217; itu, apapun tontonannya, selalu ada yang bikin kita ketawa bareng, misalnya, mama&#8217; selalu ketawa kalau ngeliat irfan hakim ngomentarin artis di salah satu infotainment tiap pagi, meskipun komentarnya gak selalu lucu, atau mama&#8217; juga seringkali ketawa kalo ngeliat pak Jokowi ketawa, kadang-kadang juga sambil ditiruin. Ketawanya mama&#8217; itu bikin aku ketawa juga. Abis itu aku jadi semangat lagi buat ngerjain tugas.</p>
<p>Mama’ juga seorang pengelola keuangan yang handal, beliau lah yang berjasa kepada keluarga kami, hingga bapak, kakak dan aku bisa hidup seperti sekarang. Mama’ seorang ibu rumah tangga, beliau ikhlas tidak bekerja di luar rumah dan dengan senang hati mengurus aku, kakakku dan Bapak. Beliau selalu mengajarkan bahwa hidup itu tidak selamanya mudah, dan bahwa Bapak sang tulang punggung keluarga tidak selamanya sehat.</p>
<p>Mama’ selalu menasehati aku dan kakakku agar selalu berpikir setiap kali membeli sesuatu, apakah barang tersebut memang benar-benar dibutuhkan? Apakah masih ada barang lain yang lebih kita butuhkan? Masih adakah barang yang lain yang berfungsi sama dan memiliki harga yang lebih murah?  Mungkin sebagian orang akan menganggap mama’ku itu perhitungan (baca: agak pelit). Tapi menurutku, kita memang harus selalu menghitung sebelum kita mengeluarkan uang. Aku sudah beberapa kali menyesal karena tidak ‘berhitung’ dulu sebelum membeli sesuatu, membeli barang hanya karena aku suka. Maafkan ya Ma’</p>
<p>Mama’ku juga motivatorku. Waktu aku SD dulu aku pernah menjalani tes psikologi, di hasil tesnya bilang kalau aku itu anak yang tidak ambisius, mungkin itu kenapa aku jadi ngerasa aman kalo dalam suatu ujian atau hal lainnya, masih ada anak atau orang lain yang hasilnya atau nilainya ada dibawah nilaiku. Mama’ sedikit demi sedikit membantuku, jika aku memberitahu hasil ujian, aku selalu menyebutkan bahwa ada anak lain yang nilainya di bawah aku, tapi mama’ selalu bertanya berapa nilai ujian teman-teman dekatku, dan jika ada yang nilainya lebih bagus dari aku, mama’ pasti bertanya kenapa dia (temanku) bisa mendapat nilai yang lebih bagus dari aku? Apakah aku tidak ingin mendapat nilai yang lebih bagus?</p>
<p>Saat aku lulus SD, aku takut untuk mencoba mendaftar di salah satu SMP favorit di kota Surabaya, aku menyebutkan banyak alasan mengapa aku tidak pantas untuk mendaftar di sekolah favorit, tapi Mama’ selalu meyakinkan aku, bahwa segala sesuatu yang baik harus dicoba dulu, jangan cuma ditakuti dan tidak dijalani. Mama’ seringkali mengatakan bahwa aku bisa melakukan segala sesuatu dengan lebih baik, jangan selalu merasa takut untuk mencoba hal yang baik dan cobalah untuk lebih yakin dengan kemampuan dirimu. Berkat segala yang dilakukan Mama’ dari aku kecil sampai sekarang, saat ini aku merasa bahwa motivasi berprestasiku jauh lebih tinggi. Aku jadi orang yang lebih bersemangat untuk mewujudkan apa yang aku inginkan.</p>
<p>Terima Kasih untuk selalu menyebut namaku di setiap doamu Mama’</p>
<p>Terima kasih atas segalanya.</p>
<p>Aku akan selalu mengharap kasih sayangmu Ma’</p>
<p>Semoga aku bisa membuat Mama’ tersenyum bahagia. Amin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right">Uli</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/mamaku-tercinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Buat Takita dari Kak Furi</title>
		<link>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/surat-buat-takita-dari-kak-furi/</link>
		<comments>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/surat-buat-takita-dari-kak-furi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2013 08:30:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>furiyani</dc:creator>
				<category><![CDATA[22 Hari Bercerita Seri Ketiga]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[22 hari bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Takita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiabercerita.org/?p=3116</guid>
		<description><![CDATA[Halo Takita! Apa kabarmu disana? Apakah kamu masih sedih? Kenalkan dulu, nama kakak adalah Furiyani Nur Amalia. Tapi Takita bisa panggil kakak dengan panggilan Kak Furi saja ya. Eh, hari ini Kak Furi mau cerita sama Takita. Tapi Takita jangan sedih lagi ya. Cerita ini adalah cerita yang sering ibu Kak Furi ceritakan ketika kakak masih kecil. Takita tahu jambu ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Takita!</p>
<p>Apa kabarmu disana? Apakah kamu masih sedih? Kenalkan dulu, nama kakak adalah Furiyani Nur Amalia. Tapi Takita bisa panggil kakak dengan panggilan Kak Furi saja ya. Eh, hari ini Kak Furi mau cerita sama Takita. Tapi Takita jangan sedih lagi ya. Cerita ini adalah cerita yang sering ibu Kak Furi ceritakan ketika kakak masih kecil.<span id="more-3116"></span></p>
<p>Takita tahu jambu monyet tidak? Kata ibuku ada dongeng mengapa jambu monyet itu kepalanya di bawah dan badannya di atas loh. Takita tahu kenapa? Ibuku sering bercerita ini dan mengingatkanku ketika aku hendak tidur di pangkuannya. Aku juga tak pernah bosan dan sampai sekarang cerita ini masih menempel di ingatan Kak Furi.</p>
<p>Dulu Jambu Monyet adalah anak pintar, aktif dan selalu bersemangat. Namun, pada suatu hari Jambu Monyet kecil pergi bermain bersama teman-temannya. Sebelum berangkat ibunya berpesan agar Jambu Monyet tidak pulang terlalu sore dan jangan bermain dengan naik-naik ke dahan yang terlalu tinggi. Jambu Monyet tidak peduli dengan pesan ibunya. Hari itu Jambu Monyet pulang terlambat dan hari sudah hampir petang. Ibunya kecewa dan khawatir kenapa Jambu Monyet pulang terlambat dan membuat perasaan ibunya jadi was-was. Tetapi ibu Jambu Monyet hanya menasehatinya dan menyuruhnya segera belajar. Keesokan harinya, Jambu monyet pun kembali bermain. Dan kembali si Jambu Monyet pulang sampai hampir petang. Dia bilang ke ibunya bahwa dia tadi kalah bermain dengan teman-temannya di tempat baru. Dia juga berjalan-jalan ke hutan yang batangnya tinggi juga dahannya panjang-panjang. Ibunya sedih mendengar alasan Jambu Monyet. Si Jambu monyet benar-benar tidak mendengarkan nasihat ibunya yang selalu membuatnya khawatir. Padahal setiap saat sebelum Jambu Monyet itu pulang, Ibunya sangat was-was takut terjadi apa-apa kepada anaknya itu.</p>
<p>Jambu monyet bosan ibunya selalu mengomel dan menasihatinya terus untuk tidak bermain terlalu jauh juga tidak boleh naik-naik ke dahan yang tinggi. Padahal baginya itu sangat menantang. Akhirnya hari berikutnya ketika hendak bermain si Jambu Monyet tidak pamit kepada ibunya dan ketika ditanya oleh ayahnya dia berbohong, katanya dia ingin belajar di rumah teman.</p>
<p>Sebenarnya hari itu Jambu Monyet ingin bermain di hutan yang jauh sekali bersama teman-temannya. Dan saking asyiknya dia dan teman-temannya mendapati ternyata hari semakin gelap dan sepertinya mereka tersesat masuk ke dalam hutan terlalu jauh. Dia yang saat itu berada di dahan yang paling ujung merasa kesulitan untuk mendekat ke batang, sedangkan teman-temannya sudah berhasil turun dulu. Teman-temannya memanggil, karena sebentar lagi hutan semakin gelap, angin semakin kencang dan burung hantu akan segera keluar. Jambu Monyet berusaha mendekati batang, namun kencangnya angin malam membuatnya sukar berpindah.</p>
<p>Teman-temannya yang ketakutan sedikit demi sedikit berlarian meninggalkan hutan itu. Kencangnya angin sampai merobek kulit dahan yang mengeluarkan getah yang sangat lengket. Si Jambu Monyet itu tergelincir ketika akan melewati dahan itu, tetapi getahnya yang sangat lengket itu berhasil menahannya. Legalah dia.</p>
<p>Namun ketika ia hendak berpindah, kakinya tak bisa dipindahkan. Dia bingung sekali. Apalagi guntur terdengar bergemuruh, tandanya hujan akan segera turun. Jambu Monyet hanya bisa menangis dia tak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Angin semakin mengombang ambingkan dahan itu. Dia takut dahan itu patah, apalagi kakinya tak bisa dipindahkan. Dia berharap angin bisa mematahkan dahan itu sehingga ia bisa jatuh dan menyentuh tanah.</p>
<p>Namun, semua tak sesuai dengan keinginannya. Hujan malah turun, Jambu Monyet sedih dan menangis memanggil ibunya. Ini akibat dirinya berbohong dan tidak mematuhi ibunya. Hujan semakin deras. Dahan yang semakin basah terguyur hujan ditambah kencangnya angin menggoyangkan tubuh Jambu monyet hingga akhirnya tubuhnya terpelanting ke bawah, namun dia tak jatuh getah tadi menahannya. Namun posisinya sekarang kakinya di dahan dan kepalanya di bawah. Dia hanya bergelantungan seperti itu. Menunggu sampai hujan reda dan angin berhenti.</p>
<p>Ibunya yang sangat khawatir menanti anaknya pulang segera mencarinya ke tengah hutan. Namun, takdir berpihak lain. Hujan semakin lebat membuat ibunya mengurungkan niatnya. Ibunya berencana mencarinya keesokan harinya.</p>
<p>Keesokan harinya ibunya pergi ke hutan dan mencari Jambu Monyet. Berteriak kesana kemari mencari Jambu Monyet sambil berharap dia baik-baik saja. Ketika hampir siang, ibunya yang sudah kehabisan tenaga pasrah dan memohon kepada Tuhan. Lalu beberapa saat kemudian terdengarlah suara dari suara pohon, ‘Anakmu sudah menjadi milikku. Dia tidak bisa pergi kemana-mana.’ Ketika ibunya menatap ke atas dahan, yang dilihat adalah kepala anaknya yang di bawah dan kakinya yang bergelantungan di atas sudah menjadi cabang dahan baru. Ibunya sedih, ibunya menyesali mengapa Jambu Monyet tidak mendengarkan nasihat ibunya.</p>
<p>Nah, Takita itulah dongeng yang sering ibuku ceritakan tentang jambu monyet yang tidak patuh. Nah, kalau Takita sedih mengapa ada ibu yang mengutuk anaknya menjadi batu, itu mungkin anaknya yang tidak patuh kepada ibunya. Jadi Takita harus bertanya kepada ibu dulu kalau ada cerita yang Takita belum tahu ya, biar tidak sedih lagi.</p>
<p>Dari cerita ibu Kak Furi, Kak Furi akan selalu ingat akan pesan ibu, walaupun kadang tidak sesuai dengan kemauan kita. Tapi Takita harus yakin apa yang ibu katakan adalah murni karena Ibu cinta dan sayang kepada Takita. Nah, Takita sudah tahu kan rasanya kangen sama ibu? Iya betul, kebahagiaan ibu adalah salah satunya adalah ketika melihat anaknya menjadi anak yang patuh akan nasihat beliau.</p>
<p>Pernah pada suatu hari Kak Furi pernah bertanya kepada ibu,</p>
<p>‘Ibu, apa yang bisa ku bantu?’</p>
<p>Jawab ibuku, ‘Tidak usah, cukup bantu ibu untuk jadi anak yang sholehah dan patuh ya, Nak’</p>
<p>Itulah kenapa aku sayang sekali kepada ibuku dan berjanji tak akan mengecewakannya. Takita juga kan? Nah, besok Takita harus cerita ke Kak Furi pengalaman apa yang pernah membuat ibu bangga ya? Kakak akan tunggu.</p>
<p>Salam sayang buat Takita.</p>
<p>Cup, jangan sedih lagi.</p>
<p>Salam,</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kak Furi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiabercerita.org/cerita-anak/surat-buat-takita-dari-kak-furi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
